Tangerang, 16 October 2012
Saya menulis blog ini karena saya ingin sharing kepada teman-teman semua tentang proses perjuangan dan perubahan anak kami M. Athar Aliyan Hafiz Kurdiansyah, yang lahir dengan kondisi Atresia Esofagus pada tanggal 04 May 2010. Athar adalah anak pertama kami, buah cinta dari perkawinan saya dan suami. Kami sangat senang sewaktu Athar lahir karena dia adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada kami.
Athar lahir di Rumah Sakit Ibu & Anak "DINDA" di Tangerang, pada tanggal 4 May 2012 jam 17.30 sore menjelang maghrib. Kami sangat bahagia ketika Athar lahir, tetapi kebahagiaan kami tidak berlangsung lama. Sekitar jam 21.00 malam, dokter anak memberitahu suami saya bahwa anak kami bermasalah, tetapi mereka belum tahu apa masalah & kelainan anak kami. Mereka hanya bilang apabila diberikan susu akan dimuntahkan kembali dan air liur Athar juga sangat banyak. Lalu mereka memasukan selang NGT melalui mulut Athar, tetapi selang tersebut balik lagi keluar. Mereka menyimpulkan sementara Athar mengalami Atresia Esofagus, tetapi mereka akan membuktikan lagi keesokan harinya dengan melalukan Rontgen.
Keesokan harinya setelah dilakukan rontgen dan dibacakan hasilnya oleh dokter anak dr. Yasmin, SPA dipastikan Athar mengidap Atresia Esofagus, yaitu buntunya saluran pencernaan dari kerongkongan menuju ke Lambung. Mendengar berita itu kami bagaikan disambar petir di siang hari, kami tidak menyangka hal tersebut terjadi pada anak kami. Kami bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Tim dokter RSIA "Dinda" menyarankan untuk mencari dokter bedah anak yang bisa mengoperasi Athar, karena Athar harus di operasi secepatnya dan tidak boleh lebih dari 48 jam karena akan menambah resiko dan membahayakan keselamatan anak kami.
dr. Yasmin, SPA menyarankan kami mengecek ke RS Hermina Pasar Baru Tangerang & Rumah Sakit Umum Tangerang untuk menanyakan apakah di rumah sakit tersebut tersedia alat dan dokter bedah yang berkompeten. Tetapi pihak Rumah Sakit Hermina mengatakan bahwa peralatan mereka tidak memadai untuk tindakan operasi tersebut, sedangkan Rumah Sakit Umum Tangerang untuk ruang Perina nya sudah penuh. Akhirnya kami disarankan kembali untuk mengecek ke Rumah Sakit Harapan KITA dan RSCM, karena kedua rumah sakit tersebut yang mempunyai peralatan lengkap dan dokter bedah anak yang mumpuni.
Kami mencoba menghubungi kedua rumah sakit tersebut, tetapi jawaban yang kami terima sangat mengecewakan. Ruang perawatan NICU & PERINA di kedua rumah sakit tersebut penuh. Dalam keadaan tersebut kami sangat bingung dan sedih mengingat kondisi Athar yang kurang baik, sementara dia ditempatkan di ruang Perina rumah sakit "DINDA" dan menggunakan bantuan oksigen serta terpaksa berpuasa karena kami tidak bisa memberikan susu kepada Athar. Aku sangat sedih melihat bayiku yang baru berumur 2 hari harus berpuasa.
Keluarga dan dokter terus berusaha mencari Rumah Sakit yang dapat menerima dan mempunyai peralatan yang cukup untuk tindakan operasi Atresia Esofagus, tetapi kami belum mendapatkan hasil. Akhirnya sempat tersirat di pikiran keluarga kami, kami akan nekat membawa Athar ke RSCM apapun yang terjadi walaupun tidak akan dapat kamar, yang penting Athar segera ditindak. Tetapi akhirnya kami mengurungkan niat kami karena dokter menyarankan untuk tidak terburu-buru karena tindakan yang gegabah akan membahayakan keselamatan anak kami. Akhirnya dokter menyarankan kami untuk menghubungi Rumah Sakit Hermina Jatinegara, karena disana termasuk lengkap peralatannya dan dokter ahli bedah anak RSCM dr. Sastiono, SpB SpBA juga praktek disana. Akhirnya kami mendapatkan berita baik yaitu pihak Rumah Sakit Hermina Jatinegara masih mempunyai tempat di Perinatologi dan operasi bisa dilakukan disana oleh dr Sastiono, SpB SpBA.
Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga, Athar dikirim ke Rumah Sakit Hermina Jatinegara dengan Ambulance. Yang mengantar Athar ke Hermina Jatinegara suamiku dan kakak iparku karena aku masih dalam masa perawatan pasca melahirkan. Athar dibawa ke Hermina Jatinegara hari Kamis tanggal 6 May 2010. Dan keesokan harinya tanggal 7 May 2010 Athar menjalani operasi pertama.
Sebelum dilakukan operasi, suamiku dipanggil dr Sastiono, SpB SpBA ke ruangan beliau. Disana suamiku diberitahu bahwa kasus seperti Athar ini sekarang bukan kasus langka lagi di Indonesia. Dan beliau menyarankan suamiku untuk bersikap tenang, karena operasi ini hanya menyambukan salurang yang terputus saja. Apabila tidak ada komplikasi apa-apa, maka operasinya cukup dilakukan sekali saja. Akhirnya suamiku menyetujuinya dan operasi pun dilaksanakan.
Aku sebagai ibu hanya bisa menangis dan berdoa untuk keselamatan anakku dari rumah. Aku hanya bisa pasrah & menerima keputusan dari Allah SWT. Dan ternyata dalam proses operasi suamiku dipanggil dr Sas, beliau mengatakan kepada suamiku bahwa usus Athar kurang panjang untuk disambungkan ke kerongkongan. Jalan satu2nya adalah membuat lubang dileher dan diperut Athar. Lubang di leher berguna untuk pembuangan air liur dan lubang di perut untuk dipasang katater yang berfungsi sebagai alat makan. Jadi nanti susu atau makanan cair akan disuntikkan langsung ke lambung melalui kateter tersebut. Dan penyambungan saluran pencernaan akan dilakukan setelah Athar berumur 1 tahun keatas. Jadi selama 1 tahun ini Athar harus minm susu & makan melalui kateter tersebut. Mendengar itu semua suamiku putus asa & tidak dapat membayangkan bagaimana nanti anak kami makan & beraktivitas. Sempat terbersit di benak suamiku untuk menghentikan operasi tersebut & memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Tetapi dr Sas memarahi suamiku, beliau mengatakan bahwa aktivitas sehari-hari Athar tidak akan terganggu, dia bisa beraktivitas seperti anak-anak normal lainnya. Yang membedakan Athar dengan anak lainnya hanya cara makannya saja, apabila anak-anak lain makan & minum susu melalui mulutnya sedangkan Athar untuk sementara dalam kurun waktu kurang lebih 1 tahun minum susu melalui kateter yang terpasang diperutnya.
Akhirnya setelah diyakinkan oleh dokter, suamiku mengizinkan para dokter untuk melanjutkan kembali proses operasi Athar. Dan setelah operasi selesai Athar dibawa ke ruangan NICU RS Hermina Jatinegara. Selama kurang lebih 20 hari Athar dirawat di NICU dan setiap minggunya saya datang untuk menjenguk Athar. Karena kondisi saya yang masih belum sehat benar akhirnya saya hanya bisa menjenguk Athar seminggu sekali. Selama pasca operasi kondisi Athar turun naik, dan setiap kali saya melihat Athar air mata saya tidak dapat dibendung melihat kondisi Athar yang penuh dengan selang disana-sini. Bayangkan seorang bayi yang baru berumur 2 minggu sudah dipenuhi selang disekujur tubuhnya. Ngilu mengingat kembali masa-masa itu. Saya hanya bisa berbicara menguatkan AThar bahwa dia bisa melewati semuanya & dia tidak akan beda dengan anak-anak yang lainnya. Aku juga selalu menanamkan dalam pikiranku kalau Athar tidak beda dengan anak-anak normal lainnya. Dalam minggu2 terakhir Athar di rumah sakit, hampir setiap hari saya ke rumah sakit. Walaupun jarak dari rumah saya cukup jauh, yaitu di Tangerang tetapi saya tetap semangat untuk melihat Athar. Saya selalu ingin memberikan semangat kepada AThar kalau dia bisa dan pasti bisa. Karena saran dokter anak AThar yaitu dr Rinawati,SPA saya harus lebih sering menemani Athar agar Athar bisa lebih cepat pulih dan bisa cepat pulang. Lagipula perawat akan mengajarkan saya bagaimana cara memberi susu kepada Athar & cara2 perawatan yang lainnya.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga, Athar bisa pulang ke rumah. Alhamdulillah akhirnya kami bisa membawa Athar pulang ke rumah. Walaupun pada awalnya kami sangat takut apabila terjadi apa-apa dengan Athar selalu perawatan dirumah. Selama saya di rumah sakit, saya dikenalkan oleh pihak rumah sakit dengan seorang ibu yang juga anaknya menderita Atresia Esofagus seperti Athar, saya bisa menanyakan hal-hal apapun yang berhubungan dengan perawatan anak Atresia Esofagus. Dan juga pada waktu Athar disana, ada seorang bayi juga dari Pangkal Pinang bernama Alisha yang bernasib sama seperti Athar. Tetapi selain Atresia Esofagus, Alisha juga menderita Atresia Ani yaitu buntunya salurang pembuangan.
Hari demi hari berlalu setelah Athar pulang dari rumah sakit, kami merawat Athar dengan sangat hati-hati dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Disitulah kesabaran kami sebagai manusia diuji oleh Allah SWT. Tetapi kami yakin Allah tidak akan memberikan cobaan apalagi hambanya tidak sanggup melewatinya. Banyak masalah2 yang tak terduga yang kami alami, seperti kateter yang lepas atau kateter yang macet sehingga susu tidak bisa masuk ke dalam perut. Karena kateter tersebut harus diganti 1-2 minggu sekali. Pada awalnya saya membawa Athar ke dr Sas untuk ganti kateter. Tetapi dr Sas menyarankan kami untuk menggantinya sendiri karena akan lebih hemat. Beliau mengajarkan bagaimana cara mencabut & memasang kembali kateternya. Pada awalnya kami takut melakukan hal itu, tetapi akhirnya kami terbiasa. Terkadang hal-hal yang tak terduga terjadi, seperti kateter lepas sendiri. Hal-hal tersebut yang bikin panik, karena posisinya saya dikantor dan bekerja, sedangkan Athar dirawat oleh ibuku. Jika hal tersebut terjadi, ibuku menelpon & aku akan meminta izin untuk pulang cepat agar bisa menggantikan kateter Athar jika adikku tidak bisa izin dari kantornya. Karena selama ini adikku yang membantuku menggantikan kateter untuk Athar. Begitu juga jika kateter Athar mampet, kami terpaksa menggantinya kembali dengan yang baru.
Hari-hari berganti dan berlalu dengan cepat, Athar tumbuh menjadi anak yang aktif dan sehat. Berat badannya bagus bahkan lebih gendut dari anak sebaya nya. Gerak motorik & intelijensia nya pun bagus. Dia pintar & cepat menangkap apa yang kita katakan, berbicara pun tidak cadel. Pokoknya tidak ada yang menyangka kalau Athar makan & minum susu melalui kateter. 1 tahun telah berlalu dan akhirnya tiba juga waktu yang dinanti. Athar menjalani operasi kedua yaitu operasi penyambungan. Sebelumnya kami selalu konsultasi kepada dr Sas & dr Rinawati apa yang harus dilakukan sebelum operasi. dr Sastiono menyarankan agar operasi kedua ini dilakukan di RSCM, selain peralatan yang lengkap biayanya pun bisa lebih murah dibandingkan dilakukan di rumah sakit swasta. Karena operasi kedua ini akan memakan biaya yang lebih banyak lagi dibanding operasi pertama & resiko yang dihadapi Athar juga lebih besar. Dokter selalu mengatakan chance keberhasilan operasi nya 50% dan kami harus bersiap-siap menerima kemungkinan yang terburuk. Mendengar itu rasanya seluruh tulang yang ada ditubuh kami lenyap tertiup angin, badan terasa lemas, kepala berputar-putar. Kami hanya bisa pasrah kepada Sang Maha Pencipta, apapun yang terbaik untuk Athar.
Sempat terpikirkan oleh kami tidak akan mengoperasi Athar, karena mendengar keberhasilan yang hanya 50% saja. Kami pikir biarlah Athar memakai kateter saja daripada kami harus kehilangan Athar. Tapi akhirnya kami tersadar bahwa Athar patut dapat yang terbaik, akhirnya kami memutuskan untuk tetap melakukan operasi yang kedua dengan resiko apapun. Akhirnya kami mencari informasi mengenai RSCM dan bagaimana caranya mendaftarkan rawat inap disana. Akhirnya kami bertemu seseorang yang dapat menolong kami untuk bisa mendapatkan kamar rawat inap di RSCM. Akhirnya setelah menunggu selama 1 bulan, Athar bisa masuk ruang perawatan di BCH RSCM pada tanggal 20 Nov'11. Sebelum dilakukan operasi, Athar ditempatkan di ruang perawatan bedah anak BCH. Setiap harinya AThar ditunggui oleh ibuku, sedangkan aku & suamiku pagi harinya kerja dan sore nya kami pergi ke RSCM untuk menemani Athar. Besok subuhnya kami pulang lagi ke Tangerang untuk bekerja, sedangkan hari Sabtu kami bergantian menginap untuk menunggui Athar & ibuku pulang ke rumah untuk istirahat & hari minggunya datang kembali untuk menggantikan kami yang hari Senin akan kembali bekerja. Begitu rutinitas baru kami setiap hari, kami sudah tidak memikirkan kesehatan & rasa lelah kami. Demi Athar kami rela melakukan apapun. Pagi kerja, sore ke rumah sakit, besok subuh pulang kembali untuk bekerja & dilanjutkan sore harinya kembali ke rumah sakit lagi.
Hampir sebulan Athar berada di BCH sebelum operasi, ini disebabkan karena tim dokter yang akan mengoperasi Athar ingin agar kondisi Athar benar-benar fit sebelum operasi. Menurut tim dokter ini termasuk operasi besar & dengan resiko yang sangat besar pula jadi harus dilakukan & observasi yang sangat hati-hati. Setiap hari Athar di uap karena lendir Athar yang selalu banyak apabila batuk. Dan juga dilakukan pemeriksaan ini itu untuk memastikan kondisi Athar dalam keadaan yang sehat. Aku masih selalu ingat perkataan dr Yani (salah satu tim dokter yang akan mengoperasi Athar) setiap pagi apabila sedang cek keliling (dalam bahasa tim dokter "RONDA"). Beliau selalu mengatakan operasi AThar ini operasi besar & dibutuhkan tim dokter yang lumayan banyak. Resikonya juga lebih besar dari operasi pertama & kemungkinan keberhasilannya itu 50%. Jadi kami harus bersiap-siap menerima kenyataan yang paling buruk sekalipun. Setiap saya mendengar kata-kata itu, airmata saya selalu tak bisa dibendung. Tapi saya berusaha tegar di depan Athar, saya tidak mau Athar melihat saya menangis. Saya harus menjadi ibu yang kuat dan tegar untuk Athar.
Tiba waktunya tanggal 16 December, hari dimana Athar akan menjalankan operasi kedua. Operasi akan dilaksanakan jam 09.00 pagi dan perkiraan dokter lamanya operasi sekitar 10 jam. 1 jam sebelum Athar dibawa ke ruang operasi, dr Yani memanggil kami. Beliau mengingatkan kami kembali bahwa operasi Athar ini adalah operasi besar dan resikonya juga besar karena menyangkut nyawa. Kemungkinan keberhasilan operasi ini 50:50, beliau juga mengatakan kami harus memasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta Allah SWT apabila kemungkinan yang terburuk terjadi. Selain itu kami juga masih harus mewaspadai kondisi Athar pasca operasi, karena justru pasca operasi kondisi Athar akan tidak stabil. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pasca operasi, seperti bocornya saluran penyambungannya dan bakteri yang akan menyerang tubuh Athar. Bakteri itu akan menyerang seluruh tubuh Athar, karena sambungan saluran pencernaan tersebut diambil dari colon atau usus besar. Seperti kita tahu usus besar adalah tempat pembuangan dan bakteri dalam tubuh, sedangkan usus besar tersebut ditempatkan di rongga dada yang notabene dekat dengan paru-paru dan jantung. Seluruh tubuh Athar akan terinfeksi virus & bakteri, dan ini semua akan tergantung dari daya tahan tubuh Athar apakah bisa bertahan melawan bakteri-bakteri tersebut. Dan tubuh Athar pun akan lebih kurus dari sebelum operasi. Mendengar itu lagi seluruh tubuh kami serasa tidak bertulang, lemas seluruh persendian. Lalu dr Yani menanyakan kembali kepada kami apakah operasinya akan dilanjutkan atau tidak. Kami memutuskan operasi harus tetap dilakukan apapun resikonya. Kami akan menghadapi & berpasrah diri kepada yang memiliki Athar. Apapun yang akan Dia buat terhadap Athar kami pasrah karena kami hanya dititipi untuk merawat Athar dengan baik. Tetapi setiap doaku aku selalu meminta agar Allah SWT masih mengizinkan kami merawat Athar.
Akhirnya jam 08.50 Athar dibawa ke ruang operasi di gedung IGD RSCM lt 4, setelah sampai di depan ruangan operasi Athar dipakaikan baju operasi bergambar gajah serta topi gajah. Athar terlihat lucu memakai baju & topi tersebut. Lalu dokter menyuntikkan obat bius melalui kaki dan tangan Athar yang dipasang infus. Setelah itu dokter mengambil Athar dari pangkuanku dan menggendongnya menuju kamar operasi. Airmata kami langsung tidak dapat dibendung setelah itu, kami berpelukan sambilg menangis di lift menuju lt 1 (aku, suami & ibuku). Karena kami tidak boleh menunggui di lt 4, kami harus menunggu di ruang tunggu operasi diluar ged IGD persisnya di depan musholla Ar-Rahman. Kami menunggu dengan cemas tetapi tetap berpasrah kepada Yang Maha Kuasa. Sementara menunggu, aku ke musholla untuk menunaikan sholat dhuha. Dalam doaku, aku minta agar operasi Athar berjalan lancar dan tim dokter tidak menghadapi kendala yang berarti. Aku juga meminta agar Allah SWT masih mempercayakan kami untuk merawat Athar. Aku kemudian membaca Surah Ar-Rahman & Al-Kahfi meminta kemurahan hati Sang Pencipta.
Setelah beberapa jam kami menunggu terdengar dari pengeras suara panggilan kepada keluarga Athar agar naik ke lt 4. Aku mulai cemas, ada masalah apa dengan proses operasi Athar. Buru-buru aku naik ke lt 4 untuk menemui dokter yang memanggil. Setelah sampai di lt 4, salah satu dokter meminta saya untuk mengambil darah merah & darah putih di Bank Darah untuk Athar. Aku langsung bergegas menuju Bank Darah yang dimaksud, pada saat mengantri darah aku merasa tidak sabar. Aku ingin cepat2 mengantarkan darah yang dibutuhkan anakku. Aku gemetar memegang darah tersebut dan berlari menuju gedung dimana operasi Athar berjalan. Dalam perjalanan menuju kesana aku berdoa Ya Allah selamatkan Athar, buatlah darah yang aku bawa ini bermanfaat & bisa menyelamatkan Athar. Setelah sampai di lt 4 aku langsung memberikan darah tersebut ke dokter yang tadi menyuruhku. Setelah itu aku kembali turun ke ruang tunggu untuk menunggu kembali jalannya operasi.
Setelah hampir 10 jam kami menunggu, akhirnya pada jam 17.55 sore kami dipanggil ke lt 4. Dan ternyata operasi Athar telah selesai. Alhamdulillah ya Allah operasi Athar berjalan lancar & berhasil.Kami melihat Athar terbaring tak berdaya didalam ruangan operasi, kami masih menunggu tim dari ICU untuk memindahkan Athar ke ruang ICU anak. Setelah beberapa lama kami menunggu datang juga perawat yang akan memindahkan Athar. Airmata ku kembali tumpah saat melihat AThar dipindahkan, ya Allah sungguh tak berdaya anakku. Ya Allah jagalah selalu anakku dalam lindunganMu. Akhirnya Athar ditempatkan di ICU anak gedung A RSCM, tetapi sekarang ruang gerakku untuk menunggui Athar terbatas. Karena di ICU tidak boleh ditunggui dan hanya boleh dijenguk pada saat jam berkunjung saja yaitu jam 10.00-12.00 untuk pagi hari dan jam 17.00 - 19.00 pada sore hari. Dan itupun kami hanya bisa melihatnya dari luar saja melalui kaca. Aku tidak bisa menyentuh & mencium anakku karena aku hanya bisa memandangi anakku dari luar ruangan.
Hari demi hari, setiap pulang kerja aku & suamiku ke rumah sakit untuk melihat anakku walaupun hanya dari kaca jendela tapi itu sudah membahagiakan kami. Rasa capek tidak akan terasa apabila aku sudah melihat anakku. Selama menunggui Athar aku, suami & ibuku tidur di ruang tunggu ged A di basement. Kami tidur hanya beralaskan kasur lantai yang kami bawa dari rumah. Setiap malam kami selalu cemas, takut-takut satpam memanggil kami karena ada sesuatu dengan Athar.
Ternyata apa yang dikatakan dr Yani sebelum operasi benar adanya, kondisi Athar turun naik dan tidak stabil. Terkadang dia demam terkadang tidak. Setiap pagi dr Joko (dokter anak di ICU anak RSCM) selalu memberikan informasi perihal kondisi Athar. Beliau mengatakan seluruh tubuh Athar terinfeksi bakteri yang berasal dari colon yang menjadi sambungan saluran pencernaan Athar. Setiap hari kami harus melapangkan dada mendengar informasi tentang kondisi Athar, setiap hari pun aku selalu berdoa agar Allah SWT masih mempercayakan kami merawat Athar dengan baik. Dalam masa itu beberapa kali Athar dalam keadaan kritis dan puncaknya ketika tubuh Athar demam tinggi & detak jantungnya diatas 200 sehingga membuat tubuh Athar bergetar hebat & menggigil. Ya Allah aku tak kuasa melihat anakku menderita seperti itu, aku hanya bisa menangis & berdoa melihat kondisi Athar dari luar ruangan tanpa bisa menyentuhnya. Aku sangat cemas sekali melihat kondisi Athar, aku ingin sekali bisa masuk ke ruangan itu & memeluk Athar. Tetapi tim dokter tidak mengizinkan & bahkan mereka menutup jendela walaupun waktu kunjungan belum habis. Malam harinya aku benar-benar cemas jika tiba-tiba terdengar panggilan kepada kami mengenai kondisi Athar. Tetapi Alhamdulillah sampai besok paginya tidak ada panggilan untuk kami.
Setelah sekian lama Athar berada di ruang ICU, kami belum pernah sekalipun diizinkan masuk ke dalam ruangan untuk menyentuh Athar. Tetapi pada suatu hari, pada saat jam berkunjung sore hari tiba-tiba perawat di ruangan Athar memanggilku dan bertanya padaku apakah aku ingin melihat Athar dari dalam. Ya Allah aku sangat bahagia sekali, tak terlukiskan kebahagiaanku mendengar perkataan perawat tersebut. Akhirnya aku bisa menyentuh anakku secara langsung, aku langsung bergegas mengangguk dan masuk ke ruangan itu. Ya Rabb anakku sungguh menderita, berbagai macam selang & kabel memenuhi seluruh tubuhnya. Aku tidak tega melihatnya Ya Rabb, aku ingin sekali menggantikan posisi Athar. Aku melihat Athar mulai membuka matanya, aku menciumnya dan membisikan kata-kata di telinganya. Aku memberikan semangat kepada Athar, agar Athar tetap berjuang melawan bakteri-bakteri yang ada dalam tubuhnya. Aku mengatakan bahwa kami selalu ada disini mendoakan dan memberikan semangat kepada Athar. Aku membisikan kata-kata "Bunda yakin Athar bisa melawan bakteri-bakteri itu. Athar jangan menyerah, Athar harus tetap berjuang karena Ayah, Bunda & nenek selalu ada disini untuk memberikan semangat untuk Athar" Setelah aku membisikan kata-kata itu, airmata Athar menetes dan terdengar suara seraknya. Aku sangat pilu mendengar rintihan Athar, seolah-olah dia mengatakan bahwa dia ingin digendong olehku dan membawanya pergi dari situ. Walaupun hanya beberapa menit saja tetapi sudah sangat berarti buat aku & suamiku. Ya Rabb terima kasih atas rahmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Hari itu adalah hari ibu paling berarti buatku, karena waktu itu bertepatan dengan Hari Ibu tgl 22 December 2011. Dan hari itu juga pertama kalinya Athar membuka matanya setelah sekian lama sengaja ditidurkan oleh dokter.
Hari berganti hari setelah saat itu kondisi Athar tetap turun naik tetapi tidak separah sebelumnya. Artinya masa kritis Athar sudah lewat karena dokter menginformasikan bakteri yang ada ditubuh Athar terus berkurang dan kondisinya sudah lebih baik. Dokter mengatakan daya tahan tubuh Athar termasuk kuat menghadapi bakteri yang menginfeksi hampir diseluruh tubuhnya. Bakteri menginfeksi paru-paru, jantung, darah bahkan tulang Athar pun terinfeksi bakteri yang berasal dari colon. Alhamdulillah Ya Allah...Engkau masih mempertimbankan untuk mempercayakan kami merawat Athar. Kenapa aku pikir masih mempertimbangkan? Karena kondisi Athar belum 100% baik karena terkadang masih turun naik. Dan karena bakteri yang ada ditubuh Athar belum 100% hilang.
Sudah hampir sebulan Athar di ICU dan perkembangan Athar semakin hari semakin membaik. Dokter mengatakan apabila Athar sudah tidak demam lagi, maka Athar akan dipindahkan ke ruang perawatan atau langsung pulang ke rumah. Kami berharap Athar akan langsung pulang ke rumah tanpa harus ke perawatan terlebih dahulu. Dan akhirnya pada tanggal
Cerita nya bersambung ya mbak??
BalasHapusSemoga yang terbaik yang diberikan olh Allah SWT utk Athar...
Cerita nya bersambung ya mbak??
BalasHapusSemoga yang terbaik yang diberikan olh Allah SWT utk Athar...
iya mba cerita sudah lama banget ya saya ga nulis lagi...karena kesibukan yang luar biasa untuk mengurus Athar. Alhamdulillah sekarang Athar sudah besar, sudah kelas 9 SMP dan sebentar lagi mau masuk SMA. Alhamdulillah Athar sehat-sehat saja dan normal seperti anak yang lainnya. Terima kasih buat doanya mba...
BalasHapus